Jantung lampung one news,21 08 2026 Banda Aceh – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala (FK USK) di tingkat internasional.
Dua mahasiswa FK USK berhasil meraih Juara III (3rd Winner) pada Essay Competition dalam ajang WORLD X GALAXY 3.0, sebuah kompetisi ilmiah internasional yang mempertemukan mahasiswa untuk mengembangkan gagasan dan solusi inovatif terhadap berbagai isu kesehatan.
Prestasi tersebut diraih melalui karya ilmiah berjudul “Addressing the Mental Health Crisis among Rohingya Refugees: Mapping and Adaptation Strategies for MHPSS Interventions in Indonesia.”
Karya tersebut disusun oleh dua mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala, yaitu Vania Az Zahra Putri Mulia dan Fathan Muhammad Gibril Kurniadi.
Melalui esai tersebut, keduanya mengangkat isu krisis kesehatan mental pada pengungsi Rohingya, khususnya dalam konteks pengungsi yang berada di Aceh. Pengalaman konflik, kekerasan, kehilangan, serta ketidakpastian akibat forced displacement dapat meningkatkan risiko berbagai permasalahan kesehatan mental, termasuk post-traumatic stress disorder (PTSD), depresi, dan kecemasan.
Untuk menjawab tantangan tersebut, penelitian ini mengkaji pendekatan Mental Health and Psychosocial Support (MHPSS) sebagai strategi komprehensif dalam mendukung kesehatan mental dan fungsi psikososial populasi pengungsi.
Berbeda dari kajian yang hanya berfokus pada identifikasi intervensi yang efektif, karya tersebut turut menelaah sejauh mana berbagai intervensi MHPSS dapat diadaptasi dan diintegrasikan ke dalam sistem kesehatan Indonesia dengan mempertimbangkan kondisi sumber daya yang tersedia.
Analisis dilakukan melalui literature screening pada basis data PubMed dengan menggunakan kerangka PICO dan memprioritaskan penelitian dengan desain Randomized Controlled Trial (RCT). Dari 64 studi yang disaring, sebanyak 20 studi memenuhi kriteria untuk dianalisis lebih lanjut.
Selanjutnya, berbagai karakteristik intervensi MHPSS dievaluasi berdasarkan prinsip Inter-Agency Standing Committee (IASC) Guidelines on Mental Health and Psychosocial Support in Emergency Settings. Penilaian mencakup aspek partisipasi komunitas, peningkatan kapasitas, kesesuaian budaya, aksesibilitas, keberlanjutan, integrasi layanan, serta dukungan berlapis.
Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat lima karakteristik intervensi yang memiliki prioritas tinggi untuk diadaptasi dalam konteks sistem kesehatan Indonesia, yaitu community-based delivery, task-shifting, peer support, trauma-informed care, serta cognitive behavioural therapy (CBT) atau problem-solving transdiagnostic approaches.
Kelima komponen tersebut kemudian disintesis ke dalam sebuah model yang diusulkan oleh penulis, yaitu Rohingya Community Mental Health Integration Model (RC-MHIM). Model ini dirancang sebagai pendekatan berbasis komunitas yang dapat menghubungkan dukungan psikososial dengan sistem pelayanan kesehatan formal.
Dalam RC-MHIM, layanan diawali melalui community-based entry point seperti tempat penampungan atau ruang komunitas yang aman. Tahapan selanjutnya meliputi skrining awal dan psikoedukasi oleh tenaga non-spesialis yang telah mendapatkan pelatihan, pemberian dukungan sebaya dan dukungan psikologis dasar, hingga intervensi CBT atau Problem Management Plus (PM+) dengan supervisi tenaga profesional.
Sementara itu, pengungsi dengan kondisi berat atau berisiko tinggi diarahkan untuk mendapatkan layanan lanjutan melalui mekanisme rujukan kepada fasilitas pelayanan kesehatan, psikolog, maupun psikiater.
Implementasi model tersebut melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari UNHCR dan IOM, Dinas Kesehatan, puskesmas, psikolog dan psikiater, hingga kader, relawan, fasilitator komunitas, serta pemimpin komunitas Rohingya.
Menurut Vania Az Zahra Putri Mulia, salah satu penulis, pemilihan isu kesehatan mental pengungsi Rohingya didorong oleh kebutuhan untuk melihat permasalahan tersebut tidak hanya dari sisi klinis, tetapi juga dari sisi aksesibilitas, keberlanjutan, budaya, dan keterlibatan komunitas.
“Melalui karya ini, kami ingin menunjukkan bahwa penanganan kesehatan mental pada pengungsi tidak cukup hanya dengan menyediakan layanan psikologis, tetapi juga membutuhkan pendekatan yang dapat menjangkau komunitas, sesuai dengan konteks budaya, serta dapat diterapkan secara berkelanjutan dalam sistem kesehatan yang tersedia,” ujar Vania.
Menurutnya, RC-MHIM masih merupakan model yang diusulkan sehingga implementasinya memerlukan penyesuaian terhadap kondisi lapangan, penguatan kapasitas tenaga non-spesialis, koordinasi lintas sektor, serta sistem monitoring dan evaluasi yang adaptif.
“Kami berharap gagasan ini dapat menjadi salah satu referensi dalam pengembangan layanan kesehatan mental yang lebih inklusif bagi kelompok rentan, khususnya pengungsi Rohingya di Aceh, sekaligus menunjukkan bahwa mahasiswa kedokteran dapat berkontribusi dalam merancang solusi berbasis bukti terhadap persoalan kesehatan global,” katanya.
Prestasi tersebut menjadi salah satu capaian mahasiswa FK USK dalam ajang internasional sekaligus menunjukkan keterlibatan mahasiswa dalam mengangkat isu kesehatan global yang memiliki relevansi langsung dengan konteks lokal Aceh.,( ismulyadi)
Social Header